Napak Tilas Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari; Ulama Peduli Umat dan Bangsa

0
170

Genap 95 tahun dalam hitungan masehi Nahdhlatul Ulama ada dan tetap eksis membersamai NKRI kita ini. Perjuangan dan kiprahnya terhadap bangsa sudah menjadi sejarah mutlak dari zaman kemerdekaan. Salah satu sosok bersejarah yang sangat berkontribusi dalam hal ini adalah Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari atau akrab dipanggil dengan Mbah Hasyim atau Kyai Hasyim. Beliau salah satu sosok ulama yang masyhur dikalangan nahdliyyin ataupun masyarakat umum lainnya. Beliau adalah salah satu pendiri Nahdlatul Ulama.

Beliau merupakan sosok ulama yang sangat mempresentasikan ciri khas ulama Indonesia. Selain memiliki intelektualitas yang tinggi, beliau juga seorang organisatoris, pendidik, pemilik etos kerja, berjiwa mandiri, dan aksetisisme yang tinggi. Untuk pengetahuan agama beliau sudah tidak diragukan lagi. Sifat tawadhu dan kharismatik yang dimiliki beliau, merupakan ciri pembeda beliau dari ulama lainnya.

Tidak hanya itu, kelahiran Nahdlatul Ulama pada saat 31 Januari 1926 silam, membuat beliau tidak hanya dikenal dalam lingkup nasional saja, bahkan dikenal sampai ke berbagai penjuru dunia. Dalam buku “Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari” karya Zuhairi Misrawi, James J. Fox (1999), antropolog dari Australian National University, menyebut bahwa beliau sebagai salah satu ulama bahkan wali yang sangat berpengaruh di Jawa karena memiliki kedalaman ilmu yang mumpuni dan diyakini membawa keberkahan bagi para pengikutnya.

Kekharismatikan beliau sebagai ulama sudah muncul sejak beliau masih muda. Sejak dini sudah ada yang meramal akan keulamaannya yang ternyata semuanya terjadi di kemudian hari. Berbagai tanda luar biasa sudah dirasakan oleh ibunda Kyai Hasyim, Nyai Halimah, sejak beliau berada dalam kandunganya. Nyai Halimah pernah bermimpi suatu malam ada sebuah bulan jatuh dari langit dan hinggap di kandungannya. Mimpi tersebut bukanlah hal yang biasa, melainkan suatu tanda akan adanya sesosok anak bertalenta dan istimewa dari rahimnya yang senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah SWT.

Pada umumnya seorang kyai adalah figur agama yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya yang juga seorang kyai. Namun belakangan ini muncul fenomena bahwa seorang kyai adalah yang menikahi putri kyai atau seorang santri yang mempunyai ilmu yang mumpuni dan luas. Pada konteks Kyai Hasyim, beliau merupakan sosok perpaduan semua itu. Beliau lahir dari ‘trah’ pesantren yang kakek nenek moyangnya pun seorang ulama dari Jawa yang sangat alim, kharismatik dan mempunyai keteladanan ilmu dan luhur yang baik serta mempersunting putri kyai yang kharismatik.

Semasa hidupnya, Kyai Hasyim menghabiskan waktunya untuk melalangbuana di berbagai lingkungan pesantren. Beliau pergi dari satu pesantren ke pesantren lainnya untuk mendalami berbagai macam ilmu. Kecerdasannya sudah tidak diragukan lagi sampai beliau sudah dipercayakan untuk bisa menjadi guru di pondok tempat beliau belajar sejak usia 13 tahun.


Sebagai seorang warga negara yang berasal dari kalangan nahdhliyyin, sosok Kyai Hasyim merupakan sosok ulama yang nasionalis dan spiritualis. Hidupnya dipersembahkan untuk kemerdekaan Indonesia. Peran beliau dalam kemerdekaan Indonesia pun sudah tidak diragukan lagi. Sejarah mencatat, bahwa beliau ikut berjuang melawan penjajah demi kemerdekaan Indonesia.

Satu hal yang patut dicatat dari keteladanan yang bisa diambil, Kyai Hasyim merupakan sosok ulama yang peduli akan bangsa dan umat di Indonesia yang majemuk ini. Menurut beliau, seorang ulama adalah pemimpin umat yang senantiasa melakukan pencerahan dan pemberdayaan terhadap umat. Kemajemukan justru mestinya menimbulkan perdamaian, bukan pertikaian. Tidak bisa dipungkiri bahwa perbedaan adalah sebuah rahmat; kasih sayang yang bisa memperindah keadaan. Kyai Hasyim senantiasa menekankan kita untuk memperkokoh persatuan. Suatu hal bisa menjadi kebatilan dan menjadi suatu kekalahan disebabkan oleh kelemahan karena tidak adanya persatuan.

Gaya beliau dalam berdakwah sangat mencirikan khas ulama Indonesia. Beliau memiliki segala ilmu hasil dari perantauan beliau ke berbagai negara Arab, khususnya Mekkah Al-Mukarromah dan sebagian negara lainnya. Hal itu tidak menghapus kecintaan beliau kepada gaya lokal ala nusantara, walaupun Kota Mekkah sangat masyhur dengan pemahaman wahabi yang biasa dikenal puritan dan menolak tradisi lokal sekalipun. Di situlah titik unik beliau dan bukti kepedulian terhadap bangsa maupun umat untuk tetap menjaga tradisi yang ada tanpa mendiskriminasikan sebuah perbedaan.

Hal yang mencolok dan identik di kalangan nahdhliyyin lainnya adalah para santrinya yang senantiasa berdoa agar kelak di hari akhir bisa diakui oleh Kyai Hasyim sebagai santrinya. Itu hal yang lumrah di antara kalangan para santri Nahdlatul Ulama. Walaupun terdengar seperti fatamorgana, tetapi perlu diingat bahwa dalam berbagai keadaan itu tidak bisa keseluruhan diukur hanya sebatas menggunakan penalaran akal, melainkan dengan hati yang tulus dan mu’alliq kepada Sang Ilahi Robbi. Mengingat dawuh beliau: “Barangsiapa yang mengurus NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku saya doakan khusnul khotimah beserta keluarganya.”.

SHARE
Previous articleHindari Virusnya, Bukan Orangnya!
Next articleHarlah NU ke-95: Melanjutkan Konsistensi Dakwah Aswaja dan Toleransi Umat Beragama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here