Kearifan Lokal Sebagai Pemersatu Bangsa (Menggali Sisi Positif Kearifan Lokal Masyarakat Suku Baduy Kabupaten Lebak Provinsi Banten)

0
18

Indonesia, negeri elok penuh pesona, beragam istiadat bangsa, pusaka nenek moyang kita. Memukau mata dunia, indah ragam adat istiadat Indonesia. Gemulai tarian daerahnya, tangkas pencak silatnya, lugu wayang goleknya dan uniknya ukiran batik itulah Indonesia. 

Hai, Sobat Literasi 

Tentu kita semua tahu, Indonesia terdiri dari berbagai macam suku yang tinggal dan menetap di segala penjuru tanah air. Pastinya, setiap suku tersebut memiliki tradisi, budaya, adat istiadat, kesenian dan kearifan lokal masyarakatnya masing-masing hingga saat ini.

Apa itu kearifan lokal? Dilansir dari buku Manusia dalam Kebudayaan dan Masyarakat (2015) karya Eko A. Meinarno, Bambang Widianto, dan Rizka Halida, kearifan lokal adalah cara dan praktik yang dikembangkan oleh sekelompok masyarakat yang berasal dari pemahaman mendalam mereka akan lingkungan setempat yang terbentuk dari tinggal di tempat.

Nah, Salah satu suku bangsa Indonesia yang memiliki begitu banyak kearifan lokal misalnya suku Jawa, suku Sunda dan suku lainnya. Diantara suku lainnya terdapat suku Baduy yang menetap di pedalaman Kabupaten Lebak, provinsi Banten. 

Perlu kita ketahui, Suku Baduy ini termasuk ke dalam etnis Sunda yang hidup bersama dan berdampingan dengan alam di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Suku Baduy terbagi dalam dua golongan yang disebut sebagai suku Baduy Dalam dan Luar.

Perbedaan yang paling dasar dari kedua suku Baduy tersebut adalah dalam menjalankan pikukuh atau aturan adat di kehidupan mereka sehari – hari. Jika suku Baduy Dalam masih memegang teguh adat dan tradisi warisan para leluhurnya dalam menjalankan aturan adat dengan baik, sebaliknya tidak dengan dengan suku Baduy Luar dimana mereka sudah tersentuh dengan peradaban modern.

Suku Baduy dalam memiliki tiga kampung yang menjadi tempat tinggal bagi semua masyarakat mereka, Sedangkan suku Baduy Luar tinggal dan menetap di 50 kampung lainnya yang berada di bukit-bukit Gunung Kendeng, Kabupaten Lebak provinsi Banten. Mata pencaharian utama mayarakat suku Baduy pada umumnya adalah berladang dan bertani. Hasil pertanian berupa kopi, padi, dan umbi-umbian menjadi komoditas yang paling sering ditanam oleh masyarakat Baduy tersebut.

Rumah-rumah adat masyarakat suku Baduy dibangun dengan menggunakan batu kali sebagai dasar pondasi rumah mereka sehingga tiang-tiang yang menjadi penyangga rumah terlihat tidak sama tingginya. Sedangkan kepercayaan Suku Baduy disebut sebagai kepercayaan Sunda Wiwitan, yakni sebuah kepercayaan yang memuja nenek moyang mereka sebagai bentuk penghormatan.

Kearifan Lokal Suku Baduy

Di balik sifat lugu, sederhana dan “keterbelakangan” mereka secara peradaban seperti yang terlihat oleh masyarakat luar, pada dasarnya suku Baduy adalah sebuah kelompok masyarakat yang hidup dengan konsistensi dalam menjalankan sistem sosial kemasyarakatan dan nilai-nilai adat serta keyakinan yang membuat hidup mereka penuh dengan keharmonisan.

Kampung yang menjadi tempat tinggal mereka sangat asri, hijau, rindang, dan penuh dengan kedamaian. Rumah-rumah dan leunyit (lumbung padi) milik mereka ditata rapih, dan tersembunyi di bawah pohon-pohon besar yang rindang, seperti pohon bambu, aren, durian, pohon sukun, limus, kiara, kianggir, kokosan, areuy kawao, rotan, dan sebagainya.

Di sekeliling kampung juga terdapat banyak mata air dengan sumber airnya yang jernih, dan kemudian ditampung dalam bentuk kolam-kolam kecil. Sebagian airnya kemudian dialirkan ke rumah – rumah warga melalui saluran yang terbuat dari sambungan batang-batang bambu. Bahkan karena teramat bersih dan jernihnya, air dari mata air itu bisa langsung diminum tanpa direbus terlebih dahulu.

Nah, dari sini kita dapat menggali sisi positif dari masyarakat baduy ini. Seakan menyatu dengan alam, masyarakat suku Baduy menjalani kehidupan sosial-ekonomi mereka dengan sangat harmonis antara satu dengan lainnya saling membantu, menghormati dan saling tolong menolong.

Menyatu dengan alam, melindungi dan menjaga alam, bersikap ramah pada siapapun yang datang, serta memiliki kekayaan hasil bumi berlimpah menjadi jaminan untuk masa depan anak cucu mereka dimasa yang akan datang.  Mereka bisa hidup dengan damai dan sejahtera tanpa perlu merasa khawatir akan kekurangan bahan pangan. 

Kelompok masyarakat seperti suku Baduy mungkin salah satu dari sedikit kelompok masyarakat yang masih ada di dunia ini yang menyimpan dan tetap memelihara serta menjaga dengan baik nilai-nilai dan kearifan lokal untuk menyelamatkan masa depan manusia dari ancaman krisis.

Ketika sebagian besar masyarakat modern di seluruh dunia merasa panik dan cemas karena ancaman kelaparan dan kemiskinan yang melanda dunia akibat dari kekeringan dan kebijakan sistem ekonomi yang salah atau karena akibat krisis ekonomi global, masyarakat Baduy tetap bisa hidup dengan tenang tanpa perlu memikirkannya.

Lalu sebagai Generasi Literasi, Bagaimana cara kita untuk memelihara dan melestarikan Kearifan Lokal yang masih ada ?

 Pertama, Mau mempelajari budaya tersebut. Contoh : Bagi kita  yang tinggal di Provinsi Banten, Kita dapat mempelajari mengenai nilai nilai yang terkandung dalam debus, jaranan, dan pada kearifan lokal masyarakat suku baduy.

Kedua, Mengambil partisipasi dalam pelestarian kebudayaan daerah. Contohnya adalah ikut pergelaran atau pameran karya seni daerah.

Ketiga, Mengajari generasi lainnya untuk dapat melestarikan kebudayaan agar kebudayaan tersebut tidak cepat luntur dan dilupakan.

Keempat, Menghilangkan perasaan gengsi, Menghindari sikap primordialisme dan etnosentrisme. Primordialisme adalah rasa bangga yang berlebihan terhadap suatu hal atau terhadap diri sendiri. Nah, sifat ini jika berkembang menyeluruh di masyarakat akan menyebabkan etnosentrisme, yaitu menganggap suku sendiri lebih hebat dan merendahkan suku bangsa lain. Tentu jika sikap ini tetap ada, maka yang terjadi adalah setiap suku di Indonesia akan saling menjelekkan satu sama lainya sehingga sulit untuk mencapai kedamaian.

Oleh karena itu, menjaga kearifan lokal adalah tugas dan peran kita bersama. Menggali sisi positif yang menarik dari masyarakat Baduy yaitu kearifan lokal mereka mengenai pandangan terhadap alam semesta.

Hal itu  sesuai dengan prinsip ajaran dan filosofis suku Baduy yaitu “lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung”. Ada pula prinsip hidup lain: Gunung tak diperkenankan dilebur, Lembah tak diperkenankan dirusak, Larangan tak boleh di rubah Panjang tak boleh dipotong, Pendek tak boleh disambung, Yang bukan harus ditolak, Yang jangan harus dilarang, dan Yang benar haruslah dibenarkan.

Tentu dari sinilah kita dapat menggali sisi positif dari kearifan lokal Suku Baduy Provinsi Banten demi menjaga persatuan bangsa Indonesia. 

SHARE
Previous articlePapua Adalah Kita, Mereka Juga Manusia Berakal
Next article“IDENTITAS SAKRAL NEGERI POROS MULTIKULTURAL”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here