Menerima Hasil Pemilu Dengan Semangat Pancasila

0
365

Oleh: Yunus Septifan Harefa

Tinggal menghitung hari, pengumuman hasil perhitungan KPU pasca pesta demokrasi yang sudah berlangsung akan segera diumumkan. Dalam menunggu hasil ini, muncul banyak sekali gejolak di tengah-tengah masyarakat. Ketegagan di antara kedua kubu tidak bisa dibendung, sehingga hoaks dan ujaran kebencian terus berseliweran di mana-mana. Kepentingan politik menjadi pemicunya, yang muaranya  untuk memecah belah kesatuan NKRI.

Pemilu dan Demokrasi

Samuel Huntingthon dalam bukunya Partisipasi Politik menjelaskan bahwa salah satu tujuan Pemilu yaitu sebagai implementasi kedaulatan rakyatdengan  asumsi bahwa demokrasi adalah kedaulatan di tangan rakyat. Karena itu, rakyat punya hak untuk menentukan kebijakan publik dengan menentukan siapa pemimpinnya. Pemilu  diselenggarakan guna memberikan hak-hak kepada rakyat untuk menentukan nasib bangsanya dalam lima tahun yang akan datang.

Hak pilih yang sudah diberikan tersebut tentu menjadi implementasi dari negara demokrasi, yang mana setiap rakyat diberi ruang kebebasan berekspresi. Setiap orang boleh memilih berdasarkan warna kesamaan kulitnya, ketertarikan secara personal, sukunya, bahasanya, partainya, atau alasan-alasan apapun itu, semua bebas. Namun, kebebasan di dalam negara demokrasi ini juga harus tetap menghargai berbagai perbedaan-perbedaan yang ada.

Rakyat Indonesia diberi hak untuk memilih sesuai pilihan hati nuraninya dan aspirasi pilihannya. Tapi, tidak boleh diintimidasi oleh pihak manapun. Prinsipnya, setiap individu harus menghargai kebebasan orang lain dalam hal perbedaan pilihan politik. Di negara demokrasi ini perbedaan itu lumrah dan tidak untuk dijadikan masalah. Namun dalam memilih, kita juga harus bisa memilah. Jangan sampai sentimen keberbedaan pilihan politik terus dibawa dalam kehidupan berelasi antara sesama anggota masyarakat.

Seharusnya, perbedaan pilihan itu kita bela sebagai cara untuk menyukseskan Pemilu yang demokratis. Jadi, setiap orang wajib bertanggung jawab bekerja sama menyukseskan penyelenggaraan Pemilu, baik dalam pelaksanaannya, maupun dalam pengawasannya hingga pada pengumuman hasilnya nanti.

Semangat gotong royong dalam pengawasan

Di dalam penyelenggaraan pemilu ini, masyarakat harus ikut terlibat aktif, sebagai bagian dari infrastuktur pemilu yang demokratis. Samuel Huntingthonmenguraikan, salah satu partisipasi rakyat adalah ikut terlibat dalam aktivitas pemilu yang salah satunya adalah dengan ikut serta dalam mengawasi pemilu.

Di dalam negara demokrasi ini, fungsi pengawasan juga harus dijalankan oleh masyarakat Indonesia, yang tentunya beradasar pada prinsip kekeluargaan, gotong royong, dan musyawarah bersama. Pesta demokrasi  2019 harus menggaungkan gerakan Pemilu Gotong Royong, gerakan yang bertujuan melibatkan rakyat dalam proses pengawasan.

Sukarno pernah mengatakan bahwa lima sila dalam Pancasila jika diperas akan menjadi satu yakni gotong royong, karena bangsa ini dibangun di atas konsepsi negara gotong royong. Menurut Sukarno, gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! (Pidato Sukarno di BPUPKI, 1 Juni 1945). Semangat gotong royong ini berguna untuk melindungi hak-hak politik dari setiap individu yang tentunya berbeda-beda.

Namun, semangat gotong royong dalam mengawasi proses demokrasi ini tidak boleh berdasarkan kepentingan kelompok tertentu, yang pada akhirnya  merusak kesatuan bangsa dan negara. Segala cara-cara yang dilakukan harus institusional dan berpegang pada hukum-hukum yang berlaku. Hoaks, ujaran kebencian, apalagi upaya untuk makar tidak akan pernah dibenarkan.

Menjaga kesatuan dan keutuhan

Sila ke-3, Persatuan Indonesia, harus terus digaungkan pasca pesta demokrasi ini. Apapun hasilnya, siapapun pemenangnya, dengan persatuan Indonesia kita menolak segala bentuk  perpecahan bangsa. Apapun alasannya, agama, suku, ras,antargolongan atau perbedaan pilihan politik. Di negara yang memiliki ideologi Pancasila, segala perbedaan ini tidak akan mampu merusak kesatuan yang sudah ada. Inilah negara Demokrasi, of the people, for the people, and by the people. Oleh karena itu, cita-cita tentang persatuan Indonesia ini pun harus dipahami dalam bingkai demokrasi, yakni persatuan itu dari rakyat, dilaksanakan oleh rakyat, dan untuk kepentingan rakyat Indonesia itu sendiri. Pasca pesta demokrasi ini, mari kita benar-benar menjiwai semangat persatuan Indonesia BHINNEKA TUNGGAL IKA.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here