Duta Damai Jakarta Sukses Gelar Seminar Hari Pancasila

0
31

Dutadamaijakarta.id, Jakarta – Duta Damai Dunia Maya regional DKI Jakarta telah sukses mengadakan kegiatan luar jaringan (offline), yakni Seminar Pancasila bertajuk “Mengakarkan dan Membumikan Pancasila Sebagai Landasan Bernegara” pada hari Sabtu, 29 Juni 2019 di Wisma Palang Merah Indonesia, Kebayoran. Baru, Jakarta Selatan. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa, beberapa komunitas, dan masyarakat umum.

Seminar ini bertujuan untuk membumikan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia, menumbuhkan jiwa Nasionalis dan Patriotis, memperkuat persatuan, kebersamaan dan solidaritas, menyatukan pemahaman mengenai kedamaian terutama dalam menghargai ke-Bhinekaan. Seminar dengan tema yang terkesan berat ini, Alhamdulillah menjadi seminar yang interaktif dan asyik karena antusias dari para peserta serta narasumber yang keren-keren. Harapannya para pemuda penerus bangsa dapat menjaga nilai-nilai pancasila agar tidak terhimpun oleh pemikiran yang hanya mementingkan satu golongan. Artinya muda-mudi milenial harus menjadi perisai utama dalam menjaga ideologi pancasila agar tetap eksis di tengah masyarakat yang beragam sehingga cita-cita bangsa bisa tercapai.

Antusias peserta pada seminar ini tidak lepas dari para narasumber yang pastinya luar biasa. Narasumber tersebut adalah Analis Media dan Monitoring BNPT Budi Hartawan, Dir Binmas Polda Metro Jaya Kombespol Drs. Umardani, M.Si., Staf Khusus Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Romo Benny Susetyo, dan Direktur Wahid Foundation yaitu Yenny Wahid.

Perihal belum membudayanya Pancasila pada masyarakat Indonesia, Romo Benny Susetyo mengatakan bahwa pembudayaan Pancasila merupakan tanggung jawab bersama segenap komponen bangsa dan lembaga negara. Generasi muda harus menjadi fokus karena masa depan merupakan tanggung jawabnya. Orang muda harus terdepan memperkokoh karakter dan jati diri bangsa diarahkan pada pembangunan jati diri Indonesia. Pembudayaan Pancasila ini di kalangan warga negara utamanya generasi muda harus dilakukan melalui pendidikan, dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat yang saling bekerja sama dan bekerja bersama.

Tidak hanya itu, perihal kerukunan di dunia maya juga menjadi pembahasan yang menarik. Yenni Wahid menuturkan bahwa tingkat radikalisme di Indonesia masih tergolong rendah. Masyarakat yang benar-benar terpapar paham radikal hanya sekitar 0.94%. Selain itu beliau juga menuturkan bahwa 90% masyarakat Indonesia masih menginginkan Pancasila sebagai ideologi bangsa kita. Namun kabar buruknya adalah intoleransi meningkat seiring dengan cepatnya arus informasi dan rendahnya literasi. (Dutadamaijakarta/Ferry)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here