Etnosentrime, Berjejaring dan Cara Pandang

0
126

Setiap dari kita pasti membanggakan apa yang kita percayai. Tidak jarang bahkan kita memaksakan kepercayaan kita ke orang lain. Salah satu contoh hal yang kita percayai adalah budaya kita. Kita cenderung merasa budaya kita adalah budaya terbaik dari setiap budaya yang ada. Kadang bahkan kita sampai merendahkan budaya lainnya. Hal ini biasa disebut juga dengan sifat etnosentrisme.

Dayakisni dan Yuniardi (2004) menjelaskan etnosentrisme adalah sikap dalam melihat dan melakukan interpretasi terhadap seseorang ataupun kelompok lain berdasarkan nilai-nilai yang ada pada budayanya sendiri.

Seseorang yang memiliki sifat etnosentrisme sering kali terjebak dalam perdebatan horizontal; antar budaya. Hal ini dikarenakan mereka selalu menjadikan kelompoknya tolak ukur dalam melihat suatu hal. Padahal setiap kebudayaan memiliki cara pandangnya masing-masing. Jika setiap orang merasa budayanya adalah yang terbaik, tentu perdebatan ini tidak akan pernah selesai dan hanya akan beranjak ke hal yang lebih parah lagi, seperti saling ejek, berkelahi hingga bentrokan. Sungguh ini adalah hal yang sangat disayangkan dan perlu kita hindari.

Seseorang yang memiliki sifat etnosentrisme sebenarnya perlu kita pertanyakan. Apakah sebenarnya mereka merasa sangat bangga dengan budayanya sendiri, sehingga kerap kali merendahkan budaya lain, ataukah jangan-jangan itu adalah bentuk ketakutan mereka akan budaya lain yang bisa menggoyahkan budaya mereka sendiri, sehingga ia perlu terus merendahkan budaya lain dan terus membanggakan budayanya.

Untuk menghindari kekacauan akibat dari sifat etnosentrisme sebenarnya tidaklah sulit. Kita hanya perlu memiliki sudut/cara padang yang beragam. Cara pandang ini bisa kita dapatkan dengan berjejaring, yaitu dengan cara mengenal lebih dekat budaya di luar dari budaya kita. Melalui hal ini kita akan mendapatkan cara pandang baru mengenai suatu hal yang sebelumnya tidak kita dapatkan dengan cara pandang budaya kita.

Berjejaring akan meningkatan wawasan dan pengetahuan. Hal ini dapat memberikan kita pemahaman untuk senantiasa tidak mudah menilai suatu hal, karena kita memiliki banyak cara pandang lainnya. Perlahan tapi pasti, sifat etnosentrisme akan terkikis sejalan dengan bertambahnya cara pandang baru yang kita dapat dari kebudayaan lain.

Seseorang yang memiliki beragam cara pandang dari banyak budaya akan sampai pada pemahaman bahwa setiap budaya memiliki indikator atau tolak ukurnya masing-masing dalam menilai suatu hal. Dan hal tersebut tidaklah salah.

Sifat etnosentrisme ini hanya salah satu contoh. Ada banyak lagi hal yang serupa. Bisa jadi bukan cuma cara pandang budaya saja, namun juga suku, ras, golongan, atau juga bahkan keyakinan. Oleh sebab itu, untuk meminimalisir terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan kita perlu berjejaring untuk saling mengenal sehingga memiliki banyak sudut untuk melihat suatu hal.

Memiliki banyak cara pandang bukan berarti kita harus mengkompromikan apa yang kita yakini dengan keyakinan orang lain. Kita hanya perlu mengetahui bahwa kita memiliki cara pandang masing-masing. Dan kita tidak perlu lagi mempermasalahkan suatu hal, karena kita memiliki cara pandang yang berbeda. Ingat, berbeda bukan berarti ada yang benar dan salah, kadang kita hanya tidak berdiri di tempat yang sama dalam melihat suatu hal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here