Menengok Pancasila Sebelum Bersuara.

0
391

Media sosial tak ubahnya seperti padang sahara yang menghampar begitu luas dan terbuka. Seorang user mampu dengan mudah memandang dan menilai seseorang yang ingin dia ketahui. Tentunya, ini merupakan hasil dari kemajuan teknologi di masa ini. Namuan sayangnya, dari sekian banyak dampak positif berupa kemudahan mendapatkan informasi, terdapat beberapa fenomena yang kurang enak dipandang karena begitu mudahnya seseorang berpendapat dan mengkritik sesuatu tanpa perhitungan. Lebih buruk lagi, tanpa etika dan kesantunan.
Padahal, Bangsa Indonesia ini dikenal dengan adabnya yang santun dan beretika. Kita bisa bercermin pada Pancasila. Khususnya, pada penuturan KH. Masykur, tentang obrolan ringan tetapi serius para pendiri bangsa ketika berdiskusi tentang dasar negara. ia bercerita:
Di rumahnya Muhammad Yamin, saya, Wahid Hasyim, Kahar Mudzakkar dari Yogyakarta, bertiga, berempat dengan Yamin, (lalu) Bung Karno datang, kita berhenti omong-omong itu.
Lantas Bung Karno tanya: “Ada Apa?”. (Kita menjawab) “Kita ingin dasar Islam, tetapi kalau dasar Islam, negara ini pecah. Bagaimana kira-kira bisa umat Islam membela tanah air, tapi tidak pecah?
Bung Karno katakan: “Coba kita tanyakan Yamin dulu, bagaimana dulu, tanah Jawa, tanah Indonesia ini?”. Yamin mengatakan: “Zaman dulu, orang Jawa punya kebiasaan. Apa kebiasannya? Pergi di pinggir sungai, di pohon besar, bersemedi, menyekar untuk minta sama Tuhan. Minta keselamatan, minta apa begitu.”
Lantas Bung karno katakan: “Nah! Ini mencari Tuhan namanya. Jadi orang Indonesia dulu sudah mencari Tuhan, Cuma tidak tahu di mana Tuhan dan siapa Tuhan itu. Pergi di pohon besar, pergi ke kayu besar, pergi di batu-batu, nyekar itu mencari Tuhan”. Kata Bung Karno (melanjutkan): “Kalau begitu, negara kita dari dulu sudah ketuhanan. Ketuhanan! Bagaimana Islam? Kalau Bangsa Indonesia bangsa ketuhanan. Mufakat? Bangsa ketuhanan. Tulis, tulis! Ketuhanan. Lalu, bagaimana selanjutnya Bangsa Indonesia?”.
Salah seorang berkata “Bangsa Indonesia itu satu sama lain saling kerja sama dan akrab, kalau datang dikasih minum, kalau waktu makan dia makan bersama. Pokoknya begitu toleransinya, begitu akrab, itulah bangsa Jawa dulu, sampai-sampai kalau pergi saling menemani”.
“Kalau begitu”, Kata Bung Karno, “Bangsa Indonesia itu dulu bangsa yang peri kemanusiaan. Satu sama lain suka menolong kerjasama, peri kemanusiaan”.
Lantas kita, sama Wahid Hasyim, “kita,,, kemanusiaan boleh, tapi harus yang adil. Jangan kalau untuk dirinya sendiri tidak diapa-apakan, tapi kalau orang lain yang salah hukum ditegakkan, itu tidak adil. Kalau Siti fatimah mencuri, saya (Nabi Muhammad) potong tangannya. (padahal) Siti Fatimah putri Rasulullah. Jadi harus adil. Biar anaknya, kalau salah, ya salah. Dihukum sebagaimana mestinya. Ini Islam. ya benar, benar ini memang”.
Lantas ada lagi Bung Karno, katakan: “siapa dulu…?”
Kahar mudzakkar mengatakan: ”ada orang budayanya tidak mau disentuh tangannya dengan orang bawahan. Kalau beri apa-apa dilemparkan. Umpamanya orang bawahan itu pengemis. Dikasih uang, dilemparkan saja. Kalau dalam Islam tidak bisa. Di dalam Islam harus diserahkan dengan baik. jadi, peri kemanusiaan yang adil dan beradab. Adabnya ini tadi”.
Dari potongan tuturan di atas, betapa kita bisa melihat bahwa Pancasila diserap dari budaya yang mengakar di tanah bumi pertiwi ini. Kemudian lantas, kini kita yang tengah hidup di atas tanah Indonesia dengan mudahnya mengeluarkan cacian dan memberikan suatu ktirik yang tanpa adab dan perasaan. Mari menengok Pancasila sebelum bersuara.

SHARE
Previous articleBelajar Damai dari Filsafat Stoisisme
Next articleManipulasi Agama Dalam Politik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here